| ← Bab Sebelumnya (Keinginan dan saran) | | Daftar Isi | | Bab Berikutnya (Definisi dan deskripsi) → |
Di bahasa Indonesia, kita tinggal menggunakan tanda kutip dan koma untuk membuat kutipan. Namun di bahasa Jepang kita memerlukan 「と」 di akhir kutipannya. Ini beda sepenuhnya dengan partikel 「と」 dan pengandaian 「と」. Berbeda dengan kutipan pada bahasa Indonesia, kita bisa melakukan lebih banyak aksi lagi selain aksi standard seperti "dia mengatakan". Sebagai contoh, kita bisa melakukan aksi "berpikir" dan "mendengar" untuk menghasilkan frasa seperti "Saya berpikir [subklausa]" atau "saya mendengar [subklausa]". Ini sangat penting di bahasa Jepang karena orang Jepang jarang membuat pernyataan tegas. Ini juga salah satu alasan kenapa terdapat banyak tata bahasa untuk menyatakan ketidakpastian dan kemungkinan.
(1) ゆかりが、「寒い」と言った。
- Yukari mengatakan, "Dingin."
(2) 「今日は授業がない」と先生から聞いたんだけど。
- Saya mendengar dari guru, "Hari ini tidak ada kelas."
Verbanya tidak harus menempel langsung ke klausa subordinatnya. Selama verba yang mengacu pada klausa subordinatnya muncul sebelum verba lain, kamu bisa meletakkan sebanyak apapun adjektiva, adverbia, maupun nomina di antaranya.
(1) 「寒い」とゆかりが田中に言った。
- "Dingin," kata Yukari ke Tanaka.
(1) 先生から今日は授業がないと聞いたんだけど。
- Saya mendengar dari guru bahwa hari ini tidak ada kelas.
(2) これは、日本語で何と言いますか。
- Apa bahasa Jepang benda ini? (lit: Mengenai ini, apa yang kamu katakan dalam bahasa Jepang?)
(3) 私は、ジャヤと言います。
- Nama saya Jaya. (lit: Mengenai saya, kamu mengatakan Jaya.)
Dalam kutipan interpretasi, arti dari 「言う」 bisa berganti sebagaimana pada contoh (2) dan (3). Sebetulnya, sebagaimana bisa dilihat di terjemahan literalnya, artinya sebetulnya sama di bahasa Jepang namun berganti hanya kalau diterjemahkan menjadi bahasa Indonesia normal. (Kita akan belajar berbagai penggunaan lain 「いう」 di bab berikut.)
Ini adalah beberapa contoh pemikiran seseorang yang digunakan sebagai klausa subordinat kutipan. Di contoh (5), partikel tanya digunakan dengan volisional untuk menyisipkan pertanyaan.
(4) カレーを食べようと思ったけど、食べる時間がなかった。
- Saya berpikir untuk makan kari tapi waktu untuk makannya tidak ada.
(5) 今、どこに行こうかと考えている。
- Sekarang, saya sedang memikirkan ke mana akan pergi.
Berbeda dengan kutipan langsung yang isinya tinggal ditulis mentah-mentah, kalau klausa subordinat kutipannya adalah pernyataan keadaan benda untuk nomina atau adjektiva-na, kamu harus menyertakan deklaratif 「だ」 secara eksplisit untuk menyatakannya
(1) 彼は、これは何だと言いましたか。
- Kata dia ini adalah apa? (Apa nama benda ini?)
(2) 彼は高校生だと聞いたけど、信じられない。
- Saya dengar dia adalah murid SMU tapi saya tidak bisa percaya.
Perhatikan bahwa 「だ」 ditambahkan secara eksplisit untuk menyatakan keadaan benda yang ditandai di terjemahan Indonesianya. Kamu bisa melihat pentingnya 「だ」 di sini dengan membandingkan kedua contoh berikut.
(A) これは何だと言いましたか。
- Kata (dia) ini adalah apa? (Apa nama benda ini?)
(B) 何と言いましたか。
- (Dia) mengatakan apa?
(1) 智子は来年、海外に行くんだって。
- Tomoko mengatakan bahwa dia akan pergi ke luar negeri tahun depan.
(2) もうお金がないって。
- Aku usah bilang bahwa aku tidak punya uang.
(3) え?何だって?
- Hah? Kamu bilang apa?
(4) 今、時間がないって聞いたんだけど、本当?
- Saya mendengar bahwa kamu tidak ada waktu sekarang. Apa itu benar?
(5) 今、時間がないって、本当?
- Kamu tidak ada waktu sekarang (saya dengar), apa itu betul?
「って」 juga bisa digunakan untuk membicarakan hampir apapun, tidak hanya mengutip apa yang dikatakan. Kamu akan mendengar 「って」 digunakan di mana saja pada percakapan santai. Seringkali dia digunakan sebagai pengganti partikel 「は」 untuk mengangkat topik baru.
(1) 明日って、雨が降るんだって。
- Tentang besok, saya dengar hujan akan turun.
(2) あいって、すごくいい人でしょ?
- Mengenai Ai, dia orang yang sangat baik kan?